BBook Now
Menu
Telfon WA : 085 338 180 688
Email : dragungcitraspkk@gmail.com

Lokasi :
Untuk saat ini untuk konsultasi dan prakteknya
bisa di WA terlebih dahulu.

Skip to Content

About:

Recent Posts by dr. A. A. A. Md Citrarasmi, Sp.DVE.FINSDV, SH.

Jaringan parut pada kulit

Jaringan parut pada kulit adalah jaringan yang muncul pada proses penyembuhan luka. Bekas luka merupakan respon alami tubuh terhadap penyembuhan luka sehingga mengakibatkan terben tuknya jaringan baru yang terlihat dan terasa berbeda dengan kulit di sekitarnya.

Saat terluka, kulit menghasilkan serat protein (kolagen) untuk memperbaiki jaringan yang rusak.Se lanjutnya, terbentuklah jaringan parut yang menutupi luka.Bentuk jaringan parut bisa bermacam-macam, tergantung dari keparahan dan jenis luka.

Penyebab Umum Jaringan Parut:

Penyebab umum timbulnya jaringan parut, seperti luka sayat, luka bakar, sayatan bedah, jerawat, infeksi, dan cedera.

Kedalaman, ukuran, dan lokasi luka dapat mempengaruhi jenis dan tingkat keparahan bekas luka yang ditimbulkan.

Jenis jaringan parut pada kulit

Jaringan parut atau bekas luka pada kulit biasanya terlihat keras, kemerahan, dan menonjol. Je nis jaringan parut yang terbentuk akan dipengaruhi oleh penyebabnya.Beberapa hal yang dapat menyebabkan munculnya jaringan parut adalah luka parah akibat kecelakaan, cedera, luka ba kar, luka robek, dan jerawat berbentuk nodus.

Faktor seperti usia, gen, etnis, dan kondisi kesehatan secara menyeluruh juga bisa mempenga ruhi pembentukan jaringan parut.

Pencegahan Jaringan Parut:

1.Perawatan Luka: Pentingnya perawatan luka yang tepat, termasuk pembersihan, disinfeksi, dan menutup luka drngan bahankhusus gel, untuk mengurangi risiko infeksi.

2.Perlindungan Matahari: Penggunaan tabir surya dan pakaian pelindung untuk melindungi penyembuhan luka dari paparan sinar UV yang dapat menggelapkan bekas luka.

3.Menghindari Iritasi: Anjurkan untuk tidak mengorek koreng atau luka, karena dapat menyebabkan jaringan parut yang lebih parah.

Jenis-jenis jaringan parut pada kulit

1.Keloid

Jaringan parut pada kulit ini mungkin sudah tidak asing bagi Anda.Keloid adalah jaringan yang muncul berlebihan akibat tubuh memproduksi terlalu banyak kolagen di area luka.Bekas luka ini terus tumbuh, bahkan saat luka sudah tertutup sempurna. Biasanya, bekas luka ini muncul dalam setahun hingga beberapa tahun setelah mengalami luka.Bentuk keloid terlihat menonjol,melebihi batas luka, dan berwarna merah muda hingga lebih gelap daripada kulit lainnya.Saat keloid tum buh, tak jarang Anda merasa gatal, nyeri, dan membuat Anda susah bergerak karena jaringannya keras dan kencang.Umumnya, keloid lebih mudah muncul pada orang dengan etnis Asia dan ku     lit gelap. Bagian kulit yang sering mengalami keloid, yaitu:

  • dada,
  • punggung,
  • pipi
  • bahu, dan
  • cuping telinga.

2.Hipertrofik

Jaringan parut pada kulit yang satu ini serupa dengan keloid, yakni tumbuh menonjol. Bedanya, bekas luka hipertrofik tumbuh tidak melebihi batas luka asli. Dikutip dari  Cleveland Clinik, be kas luka hipertrofik umumnya muncul karena cedera kulit, luka akibat trauma, peradangan, luka bakar, dan bekas luka ope rasi. Jaringan parut ini lebih sering muncul di bagian:

  • bahu,
  • leher
  • dada, dan
  • lutut

Berbeda dengan keloid, hipertrofik pada struktur kulit muncul lebih cepat, yakni 4-8 minggu setelah luka. Pertumbuhan hipertrofik memakan waktu hingga 6 bulan.

3.Atrofik

Jaringan parut pada kulit yang satu ini muncul karena adanya bekas jerawat dan cacar. Bentuk bekas luka ini membulat, cekung, dan bopeng yang tidak rata.

Biasanya, jaringan parut ini kerap muncul pada bagian wajah. Seiring bertambahnya usia, Anda akan lebih rentan memiliki bekas luka ini karena kadar kolagen pada kulit semakin berkurang. Jaringan parut atrofik pun lebih sering dialami daripada keloid dan hipertrofik, perbandingan kasusnya sebesar 3:1.

Bekas luka atrofik terbagi lagi menjadi tiga jenis.

  • Ice pick scar: bopeng yang cukup dalam dengan diameter yang sempit dan menyerupai huruf V.
  • Rolling scars: bekas luka bopeng tidak terlalu dalam, tetapi diameternya cukup lebar, yakni 4-5 mm.
  • Boxcar: bekas luka yang berbentuk bulat hingga oval, tetapi di pinggirnya memiliki garis yang jelas. Bekas luka ini lebih sering hadir pada penderita  Cacar air.

Bopeng adalah salah satu jenis bekas jerawat yang cukup dalam pada kulit. Umumnya, bekas jerawat ini tidak dapat hilang sendirinya.

4.Kontraktur

Jaringan parut pada kulit ini biasanya muncul akibat luka bakar dengan ukuran yang cukup mele bar. Tampilan kontraktur biasanya lebih datar dan terlihat mengilap.Kontraktur muncul pada lu ka yang membuat jaringan kulit rusak parah, menyusut, dan bahkan menghilang.Kerusakan ter sebut menyebabkan jaringan parut tumbuh begitu kencang sehingga menghambat gerakan Anda.

Bila kontraktur berkembang sampai ke dalam otot, saraf, dan sendi, keberadaan bekas luka ini bisa semakin mengganggu pergerakan tubuh.

5. Stretch marks

Meski bukan disebabkan oleh luka berdarah, stretch marks juga termasuk jaringan parut pada kulit. Stretch marks muncul akibat adanya peregangan atau penyusutan pada kulit. Hal tersebut mampu merusak jaringan kulit, tepatnya bagian kolagen dan elastin. Jaringan parut yang satu ini juga bisa muncul akibat berat badan naik atau turun secara drastis, kehamilan, dan, penyalahguna an  salep kortikosteroid

Biasanya, stretch marks bisa Anda temukan pada:

  • perut,
  • bokong
  • paha,
  • punggung,
  • payudara,
  • ketiak, dan
  • pangkal paha.

Cara mengatasi jaringan parut pada kulit

Perlu Anda ketahui, bekas luka ini sulit hilang bila Anda menggunakan produk perawatan kulit biasa. Anda memerlukan obat maupun prosedur dari dokter kulit.

Ini adalah beberapa cara menghilangkan jaringan parut pada kulit.

  1. Gel silikon

Gel silikon terbukti baik untuk mengobati jaringan parut. Perawatan ini bekerja dengan cara menghidrasi lapisan kulit terluar, yaitu stratum korneum.

Gel silikon bisa mengatasi perkembangan jaringan parut hipertrofik hingga luka operasi caesar.

  1. Pembedahan

Dokter bisa mengangkat jaringan parut pada kulit dengan pembedahan.

Dokter biasanya melakukan operasi perbaikan jaringan parut ini dalam jangka waktu setahun setelah luka terbentuk.

Selanjutnya, dokter akan memastikan luka pembedahan ini mereda dengan baik. Namun, tetap ada risiko keloid muncul kembali setelah pembedahan.

Jaringan parut tidak bisa hilang dan biasanya bersifat permanen. Akan tetapi, dalam beberapa kasus kondisi ini bisa memudar atau mengecil seiring berjalannya waktu. Namun, hal ini bisa memakan waktu bertahun-tahun.

  1. Suntikan

Suntikan antiinflamasi  berguna untuk mengatasi jenis jaringan parut keloid dan hipertrofik.

Antiinflamasi  mengurangi pembentukan kolagen berlebih serta menghambat peradangan luka.

  1. Laser

Dokter akan mempertimbangkan penggunaan laser dengan gelombang tertentu untuk memudarkan jaringan parut.

Cara kerja perawatan ini adalah untuk mengontrol kolagen pada luka. Alhasil, bekas luka pun lebih tidak kentara.

  1. Dermabrasi

Dermabrasi menggunakan berlian atau sikat kawat halus untuk meratakan permukaan kulit dengan bekas luka.

Prosedur medis ini memicu timbulnya lapisan kulit baru sehingga kulit tampak lebih mulus.

  1. Krioterapi

Proses ini melibatkan suhu dingin dari nitrogen cair ke jaringan parut. Suhu dingin membuat sel-sel yang abnormal mati.

Dengan begitu, jaringan kulit tetap terkendali sehingga tetap tumbuh dengan optimal.

Jika mengalami gejala seperti diatas, silahkan berkonsultasi ke

WA : 085 338 180 688 ( Khusus Booking )

Apotek Kita Ubung

Jl. Cokroaminoto No.309

Ubung Denpasar

https://maps.app.goo.gl/iTpsRxajSCFDfmFx9

Jadwal

Praktek Dokter Spesialis
Senin s/d Sabtu – 11.00 s/d 21.00

Praktek Dokter Umum
Senin s/d Jumat – 17.00 s/d 22.00

Kerja sama dengan

READ MORE

Menghilangkan Bopeng Bekas Jerawat atau cacar atau pitted scar

Bopeng/ Pitted Scar adalah salah satu jenis bekas jerawat yang cukup dalam pada kulit. Umumnya, bekas jerawat ini tidak dapat hilang sendirinya. Untuk  menghilangkan perlu dilakukan Tindakan berupa :

Berikut ini beberapa Tindakan di antaranya:

  1. Chemical Peeling. Chemical peeling atau eksfoliasi kimia adalah salah satu metode yang populer dalam mengatasi bopeng bekas jerawat.
  2. Cara lain untuk menghilangkan bopeng bekas jerawat adalah dermabrasi.
  3. Dermal Filler
  4. Microneedling
  5. Subsisi Kulit Wajah.
  6. Laser

Jenis – jenis Bopeng dan Bekas Jerawat

Perlu kamu pahami, tidak semua bopeng atau bekas jerawat terlihat sama. Bentuk dan tampilannya bisa bervariasi. Berikut ini jenis-jenis bopeng dan bekas jerawat:

  1. Rolling Scar

Ini merupakan jenis bekas jerawat yang paling umum. Tampilannya terlihat dangkal, lebar, dan tepinya miring. Bopeng ini cenderung semakin terlihat seiring bertambahnya usia.

  1. Noda Hitam bekas Jerawat

Terkadang, jerawat yang sembuh meninggalkan noda hitam sementara pada kulit. Bekas jerawat ini bernama  hiperpigmentasi pasca inflamasi.

  1. Boxcar Scar dan Ice Pick Scar

Penyebab bopeng ini adalah hilangnya jaringan yang bernama   depressed fibrotic scars (boxcar scar) dan bekas luka ice pick .   Bekas jerawat ini tampak cekung dan terlihat seperti lubang di kulit.

  1. Bekas luka hipertrofik dan keloid

Beberapa jenis jerawat meninggalkan bekas luka yang tampak seperti pertumbuhan jaringan yang membesar dan menonjol.Penyebab bopeng ini adalah terlalu banyak jaringan parut. Bekas luka hipertrofik dan keloid terlihat serupa, tapi keloid lebih menonjol.

FOTO

\

Jika mengalami gejala seperti diatas, silahkan berkonsultasi ke

WA : 085 338 180 688 ( Khusus Booking )

Apotek Kita Ubung

Jl. Cokroaminoto No.309

Ubung Denpasar

Jadwal

Praktek Dokter Spesialis
Senin s/d Sabtu – 11.00 s/d 21.00

Praktek Dokter Umum
Senin s/d Jumat – 17.00 s/d 22.00

Kerja sama dengan

 

READ MORE

Hiperpigmentasi Pasca Inflamasi/Warna Kulit lebih gelap setelah penyembuhan peradangan

Hiperpigmentasi Pasca Inflamasi/ HPI adalah warna kulit lebih gelap setelah proses penyembuhan peradangan, bisa setelah penyembuhan luka, setelah cedera kulit, eksema, alergi, gigitan serangga, setelah herpes atau luka bakar. Perawatan nya harus lebih dini untuk membantu mempercepat penyelesaian dan dimulai de ngan pengelolaan kondisi peradangan awal. Pengobatan dini dimulai agen depig menttasi topical untuk mencerahkan secara efektif kulit yang dalam penyembuhan luka.

Hiperpigmentasi Pasca Inflamasi ini dapat memiliki dampak psikososial yang sig nifikan pada pasien kulit berwarna, karena perubahan pigmen ini dapat terjadi de ngan frekuensi dan keparahan yang lebih besar pada populasi ini dan sering sekali lebih jelas pada kulit yang lebih gelap.

Hiperpigmentasi Pasca Inflamasi/PIH,  akibat kelebihan produksi melanin atau disperse pigmen yang tidak teratur setelah peradangan kulit. Ketika PIH terbatas pada epidermis, terjadi peningkatan produksi dan transfer melanin ke sekitar kera tinosit. Jika PIH dalam dermis yang diakibatkan oleh peradangan pada keratinosit basal, yang melepaskan melanin dalam jumlah besar. Pigmen bebas kemudian di fagositosis oleh melanofag di dermis bagian atas dan menghasilkan kulit berwarna biru-abu-abu pada tempat cedera.

Lokasi kelebihan pigmen di dalam lapisan kulit akan menentukan warna kulit yang akan  terjadi. Jika terjadi di epiderma  maka  akan tampak warna kulit keco klatan, coklat atau coklat tua. Jika kelebihan pigmen di dermis maka kulit penyem buhan akan berwarna biru-abu-abu.

Gambaran Hiperpigmentasi  Pasca Inflamasi/HPI

Jika mengalami gejala seperti diatas, silahkan berkonsultasi ke

WA : 085 338 180 688 ( Khusus Booking )

Lokasi Praktek

Apotek Kita Ubung

Jl. Cokroaminoto No.309

Ubung Denpasar

Jadwal

Praktek Dokter Spesialis
Senin s/d Sabtu – 11.00 s/d 21.00

Praktek Dokter Umum
Senin s/d Jumat – 17.00 s/d 22.00

Kerja sama dengan

READ MORE

Penyakit Radang Panggul/Pelvic Inflammatory Disease/ PID

Penyakit radang panggul adalah peradangan akibat infeksi pada saluran gene talia bagian atas mencakup uterus, tuba falopi dan ovarium. Perempuan mempu nyai resiko tinggi terkena PID adalah perempuan usia reproduktif, khususnya beru mur kurang 25 tahun, dengan partner seksual lebih dari satu dan melakukan hu bungan seksual tanpa pelindung/kondom. Faktor resiko lain adanya Riwayat PID dan ligase tuba.

PID biasanya diawali infeksi vagina dan serviks yang kemudian naik ke saluran genetalia bagian atas. Chlamydia trachomatis dan Neisseria gonorrhoeae adalah dua bakteri penyebab penyakit menular seksual yang paling sering ditemukan pada kasus PID. Tidak hanya bakteri, beberapa kasus PID juga berkaitan dengan infeksi virus seperti  Cytomegalovirus dan Herpes simpleks Sebanyak 30-40% kasus PID ada lah kasus polimikrobial. Oleh karena itu, terapi dengan antibiotik spektrum luas dibu tuhkan untuk mengobati PID.

Secara umum, tanda dan gejala klinis PID sebetulnya sangat beragam. Beberapa pa sien tidak atau sedikit sekali menunjukkan gejala, sementara beberapa pasien lainnya menunjukan gejala akut yang cukup serius. Keluhan tersering yang biasanya dialami oleh pasien adalah nyeri perut bagian bawah (area pelvis), keputihan tidak normal, nyeri di area kelamin yang terjadi secara terus-menerus atau terulang Ketika akan, sedang atau setelah berhubungan seks dan perdarahan pervaginam.

Namun, diagnosis klinis dugaan PID harus dibuat pada semua wanita muda yang aktif secara seksual atau wanita yang berisiko terkena IMS yang datang dengan nyeri panggul atau perut bagian bawah dan memiliki nyeri goyang serviks atau nyeri tekan uterus dan adneksa pada pemeriksaan fisik. Pengobatan harus dimulai sesegera mung kin dari diagnosis klinis presumtif.

PID dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang, seperti  infertilitas, kehamilan ectopik/ kehamilan di luar kandungan, dan nyeri pelvis kronik. Oleh karenanya, pence gahan merupakan langkah terbaik. Edukasi perlu diberikan pada populasi target menge nai perilaku seks yang aman, termasuk penggunaan kondom dan tidak berganti-ganti pasangan seksual.  Selain itu komplikasi PID juga dapat berupa abses Tuboovarium. Abses Tuboovarium dapat menyebabkan terjadinya peritonitis area pelvis hingga sin droma Fitz Hugh-Curtis yangmenyebabkan peradangan pada area perihepar. Terdapat beberapa laporan yang mengatakan bahwa Wanita dengan Riwayat PID lebih berisiko mengalami stroke, kanker ovarium, hingga infark miokard terutama pada manita usia lebih 55 tahun, infertilitas dan kehamilam ektopik/kehamilan diluar kandungan.

Adapun factor-faktor yang dapat menyebabkan pasien rawat inap membutuhkan waktu yang lama untuk diterapi (dirawat inap lebih 7 hari), atau membutuhkan terapi bedah antara lain, usia lanjut, Riwayat Tindakan bedah ginekologi sebelumnya, lesi kistik apapun yang teridentifikasi dengan pemeriksaan USG, dan kadar protein reaktif- C yang tinggi.

Diagnosa Penyakit Radang Panggul/ PID

Diagnosa PID/ Pelvic Inflammatory Disease atau Penyakit Radang Panggul perlu dicuri gai pada pasien yang mengalami nyeri perut bawah bagian area pelvis, keputihan, nyeri daerah kelamin secara terus menerus atau berulang Ketika, akan, sedang, atau setelah berhubungan seksual dan perdarahan pervaginam. Meskipun demikian, beberapa pasi en PID bisa saja asimptomatik dan penyakit tidak terdeteksi hingga terjadi komplikasi.

Kriteria PID :

a.Wanita muda yang sudah aktif secara seksual dan memiliki risiko tertular Infeksi Menular Seksual dengan nyeri perut bagian bawah atau pelvis (tanpa penyebab).

b.Pada pemeriksaan pelvis ditemukan satu atau lebih seperti, nyeri goyang serviks, nyeri tekan uterus, atau nyeri tekan adneksa.

c.Edukasi dan promosi Kesehatan PID atau Penyakit Radang Panggul adalah mengenai pencegahan Infeksi Menular Seksual karena PID paling sering dikaitkan dengan Klamidia dan gonorrhoe. Pasien yang sudah didiagnosa perlu di edukasi mengenai regimen terapi dan pentingnya menyelesaikan terapi antibiotic untuk mencegah komplikasi dan kebutuhan Tindakan pembedahan.

Gambar P I D

Jika mengalami gejala seperti diatas, silahkan berkonsultasi ke

WA : 085 338 180 688 ( Khusus Booking )

 

Lokasi Praktek

Apotek Kita Ubung

Jl. Cokroaminoto No.309

Ubung Denpasar

Jadwal

Praktek Dokter Spesialis
Senin s/d Sabtu – 11.00 s/d 21.00

Praktek Dokter Umum
Senin s/d Jumat – 17.00 s/d 22.00

Kerja sama dengan

READ MORE

Apa itu Kondiloma Akuminata atau Kutil Kelamin ?

Kondiloma Akuminata merupakan kutil kelamin yang disebabkan oleh virus  HPV. Kondiloma terjadi pada penderita infeksi penyakit menular seksual. Muncul kutil dalam bentuk benjolan2 seperti kembang kol.

Penyebab  munculnya  Kondiloma

Kondiloma dialami oleh orang-orang  terinfeksi penyakit menular  seksual yang melakukan hubungan seksual dengan orang yang tidak diketahui latar belakangnya dan yang melakukan hubungan seksual dengan banyak orang. Orang yang dengan sistem imun yang rendah, mela kukan kontak kulit dengan kutil penderita kondilo ma, dan memiliki luka pada kulit dapat meningkatkan resiko seseorang mengalami kondiloma. Penularan infeksi  Virus HPV bisa terjadi karena penggunaan sex toy  yang tidak higienis. Beberapa kondisi yang meningkatkan resiko terjadinya kondi loma akuminata adalah :

a. Aktif secara sexual diusia muda.

b. Bergonta ganti pasangan seksual tanpa kondom.

c. Pernah berhubungan seksual dengan seseorang yang riwayat kesehatan seksualnya tidak diketahui.

d. Pernah menderita infeksi menular seksual.

e. Memiliki sistem kekebalan tubuh yang terganggu, karena HIV/AIDS, mengkonsumsi obat pada orang dengan transplan organ.

Kutil juga bisa muncul di mulut atau tenggorokan. Kondisi ini terjadi karena penularan melalui seks oral. Wanita  maupun pria dapat terkena kondiloma aku minata, namun  ini lebih banyak didapat pada pria kelompok umur 17-30 tahun. Jika dibiarkan akan menimbulkan rasa tidak nyaman karena terasa mengganjal. Gejala umumnya rasa nyeri dan gatal , adanya sensasi seperti terbakar, serta pendarahan saat berhubungan seksual. Kondiloma akuminata yang sudah lama dibiarkan tanpa penanganan, ukurannya bisa sangat besar dan menimbulkan rasa tidak nya man karena terasa mengganjal.

Kondiloma Ketika menyerang perempuan akan muncul disekitar area paha bagi an atas, dinding vagina, vulva, saluran anus, daerah sekitar alat kelamin, juga leher rahim. Pada pria kondiloma muncul diujung batang penis, bagian selangkangan, disekitar atau dalam area anus, dipaha atas, skrotum hingga saluran kemih. Pada orang yang melakukan oral sex maka dapat timbul sekitar mulut dan tenggorokan.

Jenis Kondiloma

Kondiloma terdiri dari dua jenis dengan penyebab yang berbeda :

a. Kondiloma Akuminata

Merupakan kutil kelamin karena infeksi virus HPV tipe 6 dan 11. Terkadang muncul berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah infeksi virus HPV.

b. Kondiloma Lata

Kondiloma lata merupakan salah satu kondisi kulit yang muncul saat infeksi sifilis pada tahapan sekunder.Kondiloma lata biasanya berbentuk luka yang seperti kulit berwarna putih keabuan serta tidak terasa sakit dan muncul di daerah yang lembab hangat. Kondiloma lata biasanya muncul di sekitar alat kelamin dan anus serta sangat menular.

Risiko kanker sebagai komplikasi dari kondiloma akuminata

Kondiloma yang disebabkan oleh infeksi virus HPV tipe tertentu bisa berpotensi untuk memicu kanker. Beberapa kanker yang dapat dialami karena infeksi virus HPV adalah kanker vulva, kanker penis, kanker anus, kanker serviks, serta kanker mulut dan tenggorokan. Dianjurkan melakukan vaksinasi Gardasil untuk orang yang aktif seksual atau pada orang yang belum melakukan aktifitas sexual baik pria maupun perempuan dianjurkan diusia 9 – 26 tahun.

c. Kondiloma dan kehamilan

Saat hamil, kutil kelamin dapat membesar atau bertambah banyak dan berdarah. Kutil kelamin dapat membesar dapat membuat penderita kesulitan untuk buang air kecil dan menghalangi vagina.Selain itu, kutil kelamin  dapat mengurangi kemam puan jaringan vagina untuk meregang saat melahirkan. Kutil kelamin yang besar di vulva atau di dalam vagina dapat berdarah saat proses melahirkan anak.Pada bebe rapa kasus khusus, bayi dapat terinfeksi dengan kondiloma pada tenggorokannya dan dapat menyebabkan terhalangnya pernapasan bayi. Jika hal itu terjadi, bayi perlu dioperasi untuk mengangkat kutil dalam tenggorokannya.Biasanya, dokter akan mengoperasi kutil kelamin pada ibu hamil atau merekomendasikan operasi caesar atau bedah sesar saat kelahiran bayi.

Gambar

 

Pencegahan infeksi Human Papiloma Virus

Dianjurkan melakukan vaksinasi Gardasil untuk orang yang aktif seksual atau pada orang yang belum melakukan aktifitas sexual baik pria maupun perempuan dianjurkan diusia 9 – 26 tahun. Vaksinasi dilakukan 3 kali.

Vaksinasi dapat  dilakukan ditempat praktek.

 

Jika mengalami gejala seperti diatas, silahkan berkonsultasi ke

WA : 085 338 180 688 ( Khusus Booking )

Lokasi Praktek

Apotek Kita Ubung

Jl. Cokroaminoto No.309

Ubung Denpasar

Jadwal

Praktek Dokter Spesialis
Senin s/d Sabtu – 11.00 s/d 21.00

Praktek Dokter Umum
Senin s/d Jumat – 17.00 s/d 22.00

Kerja sama dengan

READ MORE

Apa itu Seborrheic keratosis ?

Seborrheic keratosis merupakan salah satu tumor jinak kulit tersering dengan angka kejadian sekitar 20% dari seluruh populasi orang dewasa dan pada umumnya terjadi pada usia lanjut. Lesi sering bersifat multipel dan bervariasi dalam hal ukuran, gambaran klinis serta warna lesi. Lesi dapat ditemukan pada seluruh area kulit baik yang terlindung dari sinar matahari maupun yang terpapar sinar matahari, namun lesi akan lebih besar dan datar pada area yang terpapar sinar matahari. Pada umumnya ditemukan pada area dada, punggung, kepala, leher serta seluruh area tubuh lain kecuali telapak tangan dan telapak kaki. Bagian tubuh yang sering menjadi lokasi kemunculan Seborrheic keratosis adalah wajah, dada, bahu, punggung, dan lipatan kulit.

Gambaran klinis sangat bervariasi, mulai dari makula, papula atau plak yang berbatas tegas dengan permukaan yang kasar (keratotik) dengan warna lesi yang bervariasi mulai dari putih cerah hingga coklat kehitaman dan berukuran 0,5 – 1,5 cm.

Benjolan keratosis seboroik tumbuh dengan lambat, tidak menular, dan jarang berkembang menjadi kanker. Kondisi ini umumnya tidak menimbulkan nyeri dan tidak memerlukan pengobatan khusus. Namun, penanganan oleh dokter bisa dilakukan jika kondisi ini dirasa mengganggu.

Penyebab dan Faktor Risiko Seborrheic Keratosis

Seborrheic Keratosis terjadi ketika sel-sel di kulit tumbuh secara tidak normal. Belum diketahui secara pasti apa penyebab kondisi tersebut, tetapi diduga terkait dengan beberapa faktor berikut:

  • Berusia di atas 40 tahun
  • Sering terpapar sinar matahari
  • Memiliki riwayat keratosis seboroik di dalam keluarga
  • Sering mengalami gesekan pada kulit, seperti pada lipatan kulit bagian dalam

Gejala Seborrheic Keratosis

Gejala utama keratosis seboroik adalah munculnya benjolan seperti kutil di kulit, dengan ciri-ciri sebagai berikut:

  • Berwarna sawo matang, cokelat, cokelat gelap, hingga kehitaman
  • Berbentuk bulat atau lonjong (oval)
  • Bertekstur kasar seperti kutil
  • Memiliki permukaan yang terlihat seperti berminyak
  • Memiliki permukaan yang rata, tetapi lebih menonjol dibandingkan permukaan kulit di sekitarnya
  • Sering muncul lebih dari satu di satu area (berkelompok)
  • Tidak menimbulkan sakit atau nyeri, tetapi dapat terasa gatal

Penderita dianjurkan untuk tidak menggaruk atau mengusap bagian tubuh yang mengalami benjolan karena dapat menyebabkan perdarahan, pembengkakan, atau infeksi.

Gambar Seborrheic Keratosis

Jika mengalami gejala seperti diatas, silahkan berkonsultasi ke

WA : 085 338 180 688 ( Khusus Booking )

Lokasi Praktek

Apotek Kita Ubung

Jl. Cokroaminoto No.309

Ubung Denpasar

Jadwal

Praktek Dokter Spesialis
Senin s/d Sabtu – 11.00 s/d 21.00

Praktek Dokter Umum
Senin s/d Jumat – 17.00 s/d 22.00

Kerja sama dengan

READ MORE

Apa perbedaan Sunscreen dan Sunblock ?

Penggunaan pelindung kulit berupa SPF sudah menjadi rutinitas bagi kita semua, terutama untuk masyarakat yang tinggal di daerah tropis seperti Indonesia. Selain menyebabkan  warna kulit tidak merata,efek samping dari paparan sinar matahari yang berlebihan bisa mempercepat penuaan dini pada kulit kamu, seperti kulit yang keriput, flek hitam, lentigo, bahkan meningkatkan resiko terkena kanker kulit.

Sunscreen dianggap hanya membuat lapisan (as a screen) untuk melindungi kulit dari sinar matahari; ada sinar matahari yang terserap dan ada juga yang tidak bisa diserap dalam kulit. Sedangkan sunblock dianggap mampu menghalangi (block) semua sinar matahari, UVA dan juga UVB. Sunscreen biasanya hanya melindungi kulit dari sinar UVB yang bisa menyebabkan kulit terbakar, namun ada beberapa sunscreen yang tidak memiliki kandungan untuk menangkal sinar UVA.

Tentu saja perawatannya akan lebih sulit apabila kamu sudah terkena efek samping dari paparan sinar UV. Sehingga mencegah kulit kamu sebelum terjadi apa-apa akan lebih baik daripada mengobatinya.

Kamu pasti sudah tidak asing lagi dengan produk sunscreen dan sunblock. Keduanya memiliki manfaat untuk mencegah kulit kamu rusak dari paparan sinar ultraviolet yang berlebihan. Namun, apa sih perbedaan antara sunscreen dengan sunblock? Dan bagaimana cara mengetahui mana yang cocok untuk kulit kamu?

Kandungan yang Membedakan

Sunscreen umumnya dibagi menjadi dua jenis, yaitu chemical dan physical. Chemical sunscreen mampu menyerap sinar matahari. Sedangkan physical sunscreen bekerja dengan menghalangi sinar matahari. Yang terakhir ini yang juga sering disebut sebagai sunblock. Chemical sunscreen memiliki kandungan seperti Aminobenzoic acid, Avobenzone, Cinoxate, Dioxybenzone serta berbagai kandungan lainnya. Beda lagi dengan physical sunscreen yang memanfaatkan kandungan titanium dan zinc sebagai UV Filter. Jadi cara mudah membedakan sunblock dan sunscreen bisa dilihat dari kandungan produknya, jika tidak menyertakan titanium dan zinc maka produk tersebut merupakan chemical sunscreen.

Perbedaan Sunscreen dan Sunblock

Secara mudah, kamu bisa membedakan keduanya dari nama mereka. Sunscreen berfungsi untuk memfilter (screens) sinar ultraviolet dari matahari. Sunscreen biasanya disebut juga sebagai chemical suncreen. Sedangkan sunblock, berperan untuk memblok sinar ultraviolet dan merefleksikannya kembali sehingga mencegahnya masuk ke dalam lapisan kulit kamu. Sunblock juga disebut sebagai physical sunscreen.

Agar kamu bisa lebih memahami perbedaannya, berikut  penjelasan tentang perbedaan sunscreen dengan sunblock;

Bahan Kandungan

Keduanya memiliki fungsi untuk melindungi kulit dari dampak sinar UV matahari, tetapi dengan cara yang berbeda. Sunscreen  lebih menggunakan bahan-bahan aktif seperti oxybenzone atau avobenzone dan para-aminobenzoid acid (PABA)Sedangkan sunblock mengandung bahan zinc oxide atau titanium dioxide yang membuat tekstur sunblock lebih tebal.

Beberapa orang yang alergi terhadap PABA biasanya lebih disarankan untuk menggunakan sunblock.

Fungsi

Biasanya, sunscreen digunakan untuk aktivitas luar ruang yang tidak begitu lama. Oleh karena itu formula sunscreen cenderung lebih ringan dan mudah diblend pada kulit. Nah, sunblock bisa menjadi pilihan bagi kamu yang mau beraktivi tas outdoor dalam waktu yang cukup lama seperti olahraga, berjemur di pantai, atau pergi ke konser di siang hari.

Cara Kerja

Dalam melindungi kulit, sunscreen membuat lapisan pada permukaan kulit untuk melindunginya dari sinar UV, meskipun tidak seluruhnya. Sedangkan sunblock bekerja dengan cara menghalangi sinar UV, baik UVA dan UVB, melalui kandungan titanium dioksida atau zinc dioksida yang ada pada sunblock.

Cara Penggunaan

Pengaplikasian sunscreen lebih baik jika kamu pakai 15 hingga 20 menit sebelum berakti vitas ke luar ruangan. Ini dikarenakan kandungan pada   sunscreen memerlukan waktu lebih agar bisa meresap ke lapisan kulit kamu. Berbeda dengan sunscreen, setelah mengaplikasi kan sunblock dan meratakannya pada kulit, kamu dapat langsung beraktivitas outdoor tan pa harus menunggu.

Meskipun begitu, penggunaan sunblock kadang masih akan terlihat pada kulit, atau biasa disebut sebagai white cast. Jika kamu ingin menggunakan sun protection untuk wajah, kamu mungkin akan mencari alternatif dari sunblock yang bisa menyebabkan white cast.

Setelah mengetahui perbedaan antara sunscreen dan sunblock, kamu pasti jadi lebih mudah untuk memilah produk apa yang cocok sesuai dengan aktivitas kamu sehari-hari. Memilih Sunscreen maupun sunblock, yang penting kamu perhatikan saat mencari produk sun protection yang cocok untuk kamu adalah pastikan produk tersebut memiliki SPF di atas 30 dan water-resistant. 

Apabila kamu memiliki kulit sensitif dan sedang dalam kondisi berjerawat, kamu mungkin ingin menghindari kandungan sunscreen atau sunblock yang memiliki parfum di dalamnya.

Jika mengalami gejala seperti diatas, silahkan berkonsultasi ke

WA : 085 338 180 688 ( Khusus Booking )

Lokasi Praktek

Apotek Kita Ubung

Jl. Cokroaminoto No.309

Ubung Denpasar

Jadwal

Praktek Dokter Spesialis
Senin s/d Sabtu – 11.00 s/d 21.00

Praktek Dokter Umum
Senin s/d Jumat – 17.00 s/d 22.00

Kerja sama dengan

 

READ MORE

Apa itu morphea ?

Morphoea (ejaan Amerika, morphea) ditandai dengan area peradangan dan fibrosis (penebalan dan pengerasan) kulit karena peningkatan deposisi kolagen. Ini juga dikenal sebagai skleroderma lokal. Istilah ‘skleroderma’ mencakup berbagai jenis morphea dan sklerosis sistemik.

Subtipe morphea bervariasi sesuai dengan lokasi kulit yang terlibat. Setiap subtipe morphea juga dapat mengakibatkan keterlibatan dalam atau subdermal dari lemak, fasia, otot, atau tulang di bawahnya.

Tidak seperti sklerosis sistemik, morfea TIDAK menyebabkan:

  • Penebalan kulit jari tangan dan kaki (sklerodaktili)
  • Autoantibodi spesifik dalam darah (seperti antibodi anti-sentromer atau anti-Scl70)
  • Pembuluh darah kecil abnormal di jari (kapiler lipatan kuku)
  • Fibrosis dan/atau kerusakan vaskular pada organ dalam.

Siapa yang mendapat morphea?

Morphoea jarang terjadi dan diperkirakan memiliki insiden 1-3 per 100.000 anak. Ini tiga kali lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan dengan pria dan sering dimulai pada masa kanak-kanak. Meskipun bukan kelainan bawaan, subtipe HLA tertentu (HLA-DRB1*04:04 dan HLA-B*37) dikaitkan dengan peningkatan risiko morfea.

Apa penyebab morphea?

Penyebab pasti morphea tidak diketahui.

  • Faktor genetik lokal tampaknya berperan; misalnya, mosaik kulit mungkin penting dalam morphea linier, yang mengikuti garis perkembangan epidermal Blaschko.
  • Hingga 40% pasien dengan bentuk morfea yang parah memiliki riwayat penyakit autoimun pribadi atau keluarga (misalnya, penyakit tiroid, vitiligo) atau penyakit reumatologi (misalnya, artritis reumatoid).

Untuk alasan yang tidak diketahui, morphea sering berkembang setelah pemicu eksternal seperti:

  • Gigitan serangga atau gigitan kutu (peran Borellia burgdorferi, penyebab penyakit Lyme masih kontroversial)
  • Injeksi (mis., bleomisin, silikon) atau vaksinasi
  • Gesekan berulang
  • Operasi
  • Radioterapi
  • Luka tembus
  • Olahraga ekstrim
  • Gesekan kecil berulang di sepanjang ikat pinggang, tali bra, dan regio inguinal, pada morfea plak diseminata isomorfik.

Morfea terkait trauma dapat terjadi di tempat yang terkena, atau di tempat jauh yang tidak terkait.

Apa saja subtipe dan gambaran klinis morphea?

Saat menggambarkan morfea, pertimbangkan tiga fitur.

  • Distribusi anatomis: lokasi dan apakah terbatas, linier, umum atau campuran
  • Morfologi: inflamasi, sklerotik, dispigmentasi, atau atrofi
  • Kedalaman keterlibatan jaringan: kulit, lemak, fasia, otot, tulang.

Distribusi anatomi

Subtipe morphea terbatas, linier, umum atau campuran.

Morphea plak terbatas/Limited Plaque Morphea

  • Jenis yang paling umum pada orang dewasa
  • Bercak berbentuk oval dengan diameter 1 hingga 20 cm
  • Dua atau lebih sedikit bagian tubuh.

Jenis morfea plak terbatas yang langka termasuk morfea guttate dan atrofoderma Pasini dan Pierini.

1. Morphea linier

  • Subtipe yang paling umum pada anak-anak
  • Ditemukan pada tungkai, badan atau kepala (kraniofasial)
  • Mengikuti garis dan pusaran yang disebut garis Blaschko
  • Biasanya unilateral, tetapi bisa bilateral dan meluas pada kasus yang parah.

Atrofoderma linier Moulin adalah subtipe langka dari morphea linier atrofi dan berpigmen.

Morphea linier kraniofasial sebelumnya diklasifikasikan sebagai:

  • En coup de saber (pita atrofi linier +/- sklerosis, biasanya pada dahi atau kulit kepala)
  • Parry Romberg / atrofi hemifasial progresif (atrofi lemak, otot dan tulang +/- dispigmentasi +/- perubahan sklerotik, mengenai satu sisi wajah).

Jenis morphea linier kraniofasial ini terjadi bersamaan dan bervariasi berdasarkan morfologi dan kedalaman keterlibatan jaringan.

2. Morphea umum/Generalised Morphea

Morphea umum mempengaruhi tiga atau lebih situs tubuh. Ada dua pola utama;

  • Morphea plak diseminata: plak tersebar dengan intervensi kulit yang tidak terkena. Bisa isomorfik (terjadi di tempat gesekan seperti ikat pinggang, garis bra, dan lipatan inguinal) atau non-isomorfik (plak tersebar di tempat mana pun).
  • Morphea pansklerotik: sirkumferensial, sklerosis konfluen, yang biasanya progresif cepat dan mengenai sebagian besar area permukaan tubuh. Hal ini terjadi pada masa kanak-kanak (menonaktifkan morphea pansklerotik masa kanak-kanak), dan dewasa (ketika tumpang tindih dengan eosinophilic fasciitis).
  • Morphea generalisata tidak mengenai jari dan kulit periareolar.

Morphea pansklerotik pada dada

3. Morphea pola campuran/Mixed Pattern Morphea

  • Morphea pola campuran terjadi jika terdapat lebih dari satu subtipe anatomi.
  • Pola campuran yang paling umum adalah morphea linier pada ekstremitas, dengan morphea plak terbatas pada batang tubuh.

Morphea terbatas dianggap ringan, sedangkan morphea linier dan morphea umum adalah subtipe yang lebih parah. Kedalaman keterlibatan jaringan juga penting ketika menilai keparahan penyakit; keterlibatan subdermal menyiratkan penyakit yang lebih parah.

Morfologi

Penampilan spesifik morphea bervariasi, dan mungkin termasuk:

  • Fase inflamasi: bercak merah muda, ungu, atau seperti memar
  • Sklerosis: kulit menjadi keras, menebal, terikat ke bawah, mengkilat, putih gading dan mungkin memiliki batas ungu dari peradangan di sekitarnya
  • Dispigmentasi dan atrofi. Ini berkembang setelah periode waktu yang bervariasi (biasanya berbulan-bulan atau bertahun-tahun); hiperpigmentasi lebih sering terjadi daripada hipopigmentasi. Atrofi superfisial (kulit) terlihat sebagai kulit yang mengkilat, seringkali dengan pembuluh darah yang terlihat. Atrofi yang lebih dalam mempengaruhi lemak, otot atau tulang muncul sebagai lekukan cekung atau perbedaan lingkar tungkai.

Morphoea secara klasik melewati setiap tahapan morfologi tersebut, hal ini tidak selalu terjadi.

Keterlibatan jaringan dalam pada morphea

Setiap subtipe morphea dapat mempengaruhi jaringan ikat di bawah kulit, seperti lemak, fasia, otot, tulang, sendi, atau otak (dalam morphea linier kraniofasial). Keterlibatan jaringan dalam adalah penanda penyakit parah.

Ketika fasia (jaringan ikat di bawah lapisan lemak) terlibat :

  • Kulit dapat terlihat mengerut, dengan tampilan seperti batu bulat atau kulit jeruk (peau d’orange)
  • Mungkin ada selokan di sepanjang pembuluh darah (tanda alur).

Keterlibatan tulang atau sendi mengakibatkan hilangnya jaringan tulang, nyeri dan/atau terbatasnya gerakan sendi (kontraktur).

Fasciitis eosinofilik adalah bentuk morfea pansklerotik dengan keterlibatan fasia yang dalam. Pera dangan melingkar dan sklerosis fasia (jaringan ikat di bawah lemak) sering muncul bersamaan dengan sklerosis dermal di atasnya atau subtipe anatomi lain dari morfea yang mengindikasikan masih dapat diperdebatkan apakah kondisi tersebut harus dianggap sebagai kondisi yang terpisah.

Gejala dari morphea

Morphoea mungkin asimtomatik, atau gejala mungkin timbul dari kulit atau jaringan yang lebih dalam, atau mungkin karena manifestasi ekstrakutan.

1. Gejala karena perubahan kulit

  • Beberapa pasien mengalami gatal dan/atau nyeri dari area morfea yang meradang secara aktif.
  • Struktur adneksa dihancurkan oleh sklerosis. Ini adalah relevansi khusus dalam morfea linier kulit kepala, yang mengakibatkan kerontokan rambut permanen.
  • Sklerosis dapat menjebak saraf superfisial dan menyebabkan nyeri, kesemutan, dan terkadang kelemahan ringan.

2. Gejala karena keterlibatan jaringan yang lebih dalam

  • Keterlibatan dalam pada sendi menyebabkan nyeri sendi atau gerakan sendi terbatas (kontraktur).
  • Konstriksi dinding dada pada morfea pansklerotik generalisata dapat menyebabkan sesak napas.
  • Keterlibatan gigi dan rahang pada morphea linier kraniofasial dapat menyebabkan masalah mulut dan gigi. Keterlibatan sendi temporo mandibular menyebabkan kesulitan mengunyah, rahang terkunci, atau nyeri.
  • Keterlibatan tengkorak dan/atau otak dapat menyebabkan sakit kepala atau dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, gejala neurologis seperti kelumpuhan saraf atau kejang.

3. Gejala sistemik

Hingga 30% pasien dengan jenis morphea linier atau umum yang lebih parah dapat memiliki gejala inflamasi non-spesifik ekstrakutan. Ini termasuk:

  • Kelelahan, lesu
  • Nyeri dan/atau peradangan sendi non-spesifik (artralgia, artritis)
  • Nyeri otot
  • Refluks/maag
  • Fenomena Raynaud (tangan dingin dengan perubahan warna merah/putih/biru)
  • Mata kering, iritasi atau penglihatan kabur karena keterlibatan okular (paling sering episkleritis, uveitis anterior, keratitis) – terkait atau tidak terkait dengan lokasi morfea

Manifestasi ekstrakutaneus ini menyiratkan bahwa morphea adalah kondisi inflamasi sistemik. Seba liknya, sklerosis sistemik mengakibatkan kerusakan langsung dan fibrosis paru-paru, jantung, ginjal, dan/atau saluran pencernaan — yang tidak terjadi pada morphea.

Gambar Morphea


Jika mengalami gejala seperti diatas, silahkan berkonsultasi ke

WA : 085 338 180 688 ( Khusus Booking )

Lokasi Praktek

Apotek Kita Ubung

Jl. Cokroaminoto No.309

Ubung Denpasar

Jadwal

Praktek Dokter Spesialis
Senin s/d Sabtu – 11.00 s/d 21.00

Praktek Dokter Umum
Senin s/d Jumat – 17.00 s/d 22.00

Kerja sama dengan

READ MORE

Penuaan Dini

Penuaan dini merupakan proses penuaan yang lebih cepat dari yang seharusnya, karena banyak faktor yang mepengaruhinya. Dari faktor genetik ternyata memain kan peranan sangat penting dalam menentukan usia seseorang, tetapi penelitian secara ilmiah menunjukkan bahwa makanan merupakan faktor penentu. Mengkonsumsi makanan nabati ternyata dikatakan menghambat proses penuaan. Dan kini gaya hidup modern seperti alkohol, merokok, stres sebagai factor yang perlu dipertimbangkan dalam proses penuaan.

KLASIFIKASI GLOGAU  

Tipe I (No wrinkles)

  1. Perubahan photo aging
  2. Perubahan pigmentasi ringan
  3. Tidak ada keratosis
  4. Kerutan minimal
  5. Usia: 20-30 tahun
  6. Minimal atau tanpa make-up

Tipe II (Wrinkles in motion)

  1. Photo aging tingkat permulaan atau sedang
  2. Permulaan lentigenous senilis terlihat
  3. Teraba keratosis, tetapi tidak terlihat
  4. Garis ketawa parallel tampak di lateral mulut
  5. Usia: 30-40 tahun
  6. Biasanya menggunakan foundation

Tipe III (Wrinkles at rest)

  1. Photo aging tingkat lanjut
  2. Tampak dyschromia, teleangiektasis
  3. Keratosis nyata
  4. Wrinkles tampak walau tidak digerakkan
  5. Usia: 50 tahun atau lebih
  6. Selalu menggunakan foundation

Tipe IV (Only wrinkles)

  1. Photo aging tingkat berat
  2. Warna kulit kuning keabuabuan
  3. Wrinkles seluruh kulit atau tidak ada kulit normal
  4. Permulaan keganasan kulit
  5. Usia: 60 tahun ke atas
  6. Tidak dapat menggunakan make-up (retak)

Faktor Resiko Penuaan Dini

(Internal dan Eksternal)

Internal :

  1. Keturunan/ genetic
  2. Ras
  3. Hormonal
  4. Malnutrisi

Eksternal:

  1. Sinar UV
  2. Merokok
  3. Minuman keras
  4. Penurunan berat badan yang cepat

Efek sinar matahari terhadap kulit

Efek fotobiologik sinar ultra violet (UVA dan UVB) menghasilkan radikal bebas dan menimbulkan kerusakan pada DNA (Baumann & Allemann, 2009). Faktor ra dikal bebas merupakan faktor utama yang mempengaruhi atau mem percepat terja dinya proses penuaan dini. Radikal bebas menyebabkan kerusakan pada kulit. Keru sakan kulit menyebabkan kulit menebal, kaku, dan tidak elastis, keriput, pucat dan kering, serta timbulnya bercak kehitaman atau kecoklatan. Ke rusakan pada berba gai struktur kulit ini memberikan gambaran klinis yang khas pada kulit di daerah terpajan matahari terutama di daerah wajah dengan gambaran wajah terlihat lebih tua dari usianya Pajanan sinar UV pada kulit akan diserap oleh kromofor yang me rupakan permulaan reaksi fotokimiawi dan dapat mengakibat kan penuaan kulit dini dan kanker. Reaksi fotokimiawi ini dapat menyebabkan pe rubahan pada DNA yang meliputi oksidasi asam nukleat. Reaksi oksidasi juga da pat mengubah protein dan lipid yang mengakibatkan fungsi sel terganggu. Akumu lasi keduanya ini mengakibatkan penuaan jaringan (Dong, et al., 2008).

Tubuh sebenarnya sudah dilengkapi untuk menghadapi stress oksidatif yang se cara alami menggunakan enzim dan nonenzim antioksidan untuk mengurangi efek buruk ini. Namun, sinar UV serta pembentukan radikal bebas dapat memperberat proses ini, yaitu dengan membuat control perlindungan secara alami menjadi tidak adekuat, yang akhirnya dapat menyebabkan kerusakan oksidatif.

Berdasarkan klasifikasi dari Glogau, terdapat 4 tipe photoaging mulai dari tipe I hingga tipe IV :

Glogau tipe I (mild) yakni photoaging fase awal dimana biasanya terjadi pada usia 20 hingga 30 tahun dan tidak ditemukan adanya keriput (wrinkle)

Glogau tipe II (moderate) sudah mulai ditemukan adanya tanda-tanda photo aging yakni keriput pada gerakan ekspresi wajah. Biasanya Glogau tipe II ini dite mukan pada usia 30 hingga 40 tahun.

Glogau tipe III (advanced) menunjukkan ada nya photoaging lebih lanjut, biasanya ditemukan pada usia 50 tahun, ditandai de ngan adanya keriput pada saat istirahat (resting wrinkle).

Gambaran photoaging yang berat digolongkan pada Glogau tipe IV (severe) yang biasanya ditemukan pada usia 60 tahun dan ditandai dengan banyaknya kerutan.

Tanda-tanda penuaan pada kulit, yaitu:

1.Kekeringan

Kekeringan pada kulit biasanya mulai terjadi ketika usia 20 tahun ke atas. Dengan usia yang semakin bertambah, kulit akan mengalami berkurangnya kelenjar minyak yang akan menyebabkan kekeringan pada kulit.

2.Kusam

Kusam merupakan tanda penuaan umum lainnya yang akan tampak. Semakin tua, kulit akan kehilangan kilau alaminya yang menyebabkan kulit tampak kusam dan tak bercahaya.

3.Kerutan

Kerutan adalah garis-garis halus yang umumnya terlihat pada berbagai area wajah. Kerutan dapat ditemukan pada dahi, bawah mata, dan garis senyum pada pipi. Ekspresi wajah merupakan penyebab timbulnya kerutan dan akan cenderung menjadi seiringnya dengan berjalannya waktu.

4.Keriput

Keriput adalah tanda penuaan yang berupa lipatan pada kulit. Biasanya akan terjadi pada dahi, bagian ujung mata, dan sebagainya.

5.Bintik-bintik gelap

Bintik-bintik gelap/flek hitam terjadi karena seringnya terpapar sinar matahari dan akan terlihat di usia 30 tahun ke atas.

6.Kulit kendur

Penyebab kulit kendur adalah menyusutnya kepadatan pada permukaan kulit saat kulit rentan dan menipis. Kondisi ini akan terjadi pada perempuan yang usianya berkisar 50 tahun ke atas.

7.Pembesaran pori-pori wajah

Pada saat kulit yang kehilangan elastisitasnya, pori – pori pada kulit akan terus berkembang dan wajah akan semakin memburuk dan berjerawat jika tidak ditangani dengan tepat.

8.Garis-garis Halus

Garis-garis halus biasanya mulai muncul setelah usia 30. Seiring bertambahnya usia, terjadi penurunan kolagen dan elastin pada kulit yang menyebabkan garis-garis halus pada kulit. Garis-garis ini akan semakin terlihat seiring dengan bertambahnya usia jika tidak diatasi.

Gambar

Anatomi Kulit Manusia (Taghizadeh dan Bastanfard, 2012)

Jika mengalami gejala seperti diatas, silahkan berkonsultasi ke

WA : 085 338 180 688 ( Khusus Booking )

Lokasi Praktek

Apotek Kita Ubung

Jl. Cokroaminoto No.309

Ubung Denpasar

Jadwal

Praktek Dokter Spesialis
Senin s/d Sabtu – 11.00 s/d 21.00

Praktek Dokter Umum
Senin s/d Jumat – 17.00 s/d 22.00

Kerja sama dengan

READ MORE

Acne Scar atau Jaringan Parut Jerawat

Istilah “jaringan parut” mengacu pada proses berserat di mana kolagen baru diletakkan untuk menyembuhkan cedera ketebalan penuh. Ini mempengaruhi 30% dari mereka dengan akne vulgaris sedang atau berat. Hal ini sangat umum pada jerawat nodulocystic, jerawat conglobata dan jerawat fulminan. Ini juga bisa menjadi konsekuensi jangka panjang dari jerawat kekanak-kanakan.

Perubahan warna pasca inflamasi terlihat setelah lesi inflamasi jerawat baru saja sembuh.

  • Eritema pascaperadangan – bercak datar berwarna merah muda atau ungu
  • Pigmentasi pasca inflamasi – tanda coklat (pigmentasi), terlihat pada orang yang mudah kecokelatan
  • Hipopigmentasi pasca inflamasi – tanda putih

Perubahan warna pascaperadangan membaik seiring waktu, tetapi bisa memakan waktu berbulan-bulan untuk benar-benar sembuh.

Apa saja ciri-ciri jaringan parut yang persisten?

Sayangnya, bekas jerawat yang sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang, meskipun penampilannya biasanya membaik seiring waktu. Mereka bisa disamarkan dengan make-up (cosmetic kamuflase).

Berikut jenis bekas luka yang terjadi pada jerawat:

  • Ice pick scars/Bekas luka pemecah es – ini adalah bekas luka yang dalam, sempit, dan berlubang.
  • Rolling scar/Bekas luka bergulir – lekukan lebar dengan tepi miring.
  • Boxcar scar/Bekas luka boxcar – lekukan yang lebar dengan tepi yang tegas.
  • Atrophic scar/Bekas luka atrofi – bekas luka datar, tipis atau bekas luka tertekan (anetoderma).
  • Hypertrophic/Bekas luka hipertrofik atau keloid – bekas luka kental yang tebal.

Gambaran bekas jerawat

ICEPICK SCAR

BOXCAR SCAR

ROLLING SCAR

HYPERTROPHIC SCAR

KELOIDAL SCAR

Jika mengalami gejala seperti diatas, silahkan berkonsultasi ke

WA : 085 338 180 688 ( Khusus Booking )

Lokasi Praktek

Apotek Kita Ubung

Jl. Cokroaminoto No.309

Ubung Denpasar

Jadwal

Praktek Dokter Spesialis
Senin s/d Sabtu – 11.00 s/d 21.00

Praktek Dokter Umum
Senin s/d Jumat – 17.00 s/d 22.00

Kerja sama dengan

READ MORE

 

Recent Comments by dr. A. A. A. Md Citrarasmi, Sp.DVE.FINSDV, SH.

    No comments by dr. A. A. A. Md Citrarasmi, Sp.DVE.FINSDV, SH.

Open chat
Halo

Terima kasih sudah mengunjungi website kami silahkan chat apabila ada pertanyaan ...